Bawondo.id – Kolaka – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Berdampak Batch II Universitas Halu Oleo (UHO) yang ditempatkan di Desa Puulemo, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, resmi menutup masa pengabdian selama 30 hari. Sederet program kerja disusun dan dilaksanakan dengan sasaran manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus pemerintah desa setempat.
Kehadiran para mahasiswa ini tidak sekadar memenuhi kewajiban akademik maupun berhenti pada seremoni dan dokumentasi. Bagi tim KKN Desa Puulemo, keberhasilan pengabdian harus dibuktikan melalui program yang dapat digunakan, dikembangkan, dan dilanjutkan oleh masyarakat serta perangkat desa setelah masa KKN berakhir.

Koordinator Desa (Kordes) KKN UHO di Desa Puulemo, Ildam Saputra, menegaskan bahwa tagline “KKN Berdampak” harus diwujudkan lewat kerja nyata, bukan sekadar menjadi slogan.
“Kami tidak ingin KKN hanya menjadi formalitas. Selama 30 hari, kami bekerja untuk membuktikan bahwa kehadiran mahasiswa UHO di tengah masyarakat harus meninggalkan sesuatu yang bermanfaat dan bisa terus dilanjutkan setelah kami kembali ke kampus,” tegas Ildam.
Salah satu program unggulan yang diwariskan adalah penyusunan Peta Desa dan pembuatan Website Desa. Dua program ini diharapkan menjadi instrumen pendukung bagi desa dalam mengelola informasi, mempromosikan potensi wilayah, serta turut mendorong transformasi digital di tingkat desa.
Menurut Ildam, kemajuan teknologi tidak boleh hanya menjadi milik pemerintah pusat maupun daerah. Desa juga harus mampu mengambil bagian dalam perkembangan tersebut dengan membangun sistem informasi yang dapat dikelola secara mandiri.
“Website desa yang kami buat jangan berhenti ketika KKN selesai. Kami berharap pemerintah desa dapat meneruskan dan mengelolanya secara aktif. Karena teknologi akan terus berkembang, dan desa harus ikut bergerak. Apa yang kami bangun hari ini harus menjadi awal, bukan akhir,” ujarnya.

Selain program unggulan tersebut, mahasiswa KKN juga menjalankan berbagai kegiatan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi riil masyarakat Desa Puulemo. Seluruh program dirancang agar memberikan dampak yang dapat dirasakan langsung oleh warga.
Ildam menegaskan, ukuran keberhasilan KKN tidak dilihat dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, melainkan seberapa jauh program tersebut mampu memberi manfaat dan berkelanjutan setelah masa pengabdian usai.
“Kami tidak mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya kegiatan yang kami laksanakan. Bagi kami, keberhasilan itu ketika setelah kami pulang, masyarakat masih merasakan manfaat dan pemerintah desa masih menggunakan serta mengembangkan apa yang telah kami tinggalkan,” katanya.
Selama 30 hari di Desa Puulemo, tim mahasiswa terus berupaya membangun kolaborasi yang erat dengan pemerintah desa dan masyarakat. Pengabdian ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu akademik sekaligus memahami secara langsung persoalan dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Ildam bersama seluruh anggota tim KKN berharap program yang telah dilaksanakan tidak berhenti sebagai laporan akhir kegiatan, melainkan menjadi bagian dari proses pembangunan desa yang dapat terus dikembangkan ke depannya.
“Kami datang bukan untuk sekadar singgah. Kami datang untuk mengabdi, bekerja, dan meninggalkan bukti. Karena KKN Berdampak bukan tentang berapa lama kami berada di desa, tetapi tentang apa yang kami tinggalkan setelah kami pergi,” tutupnya.
Sumber : Ildam Syaputra
@Redaksi Bawondo


